TUGAS MAKALAH ISBD

PENDAHULUAN

Sebagaimana di ketahui di wilayah propinsi Kalimantan  terdapat keragaman adat dan tradisi n(termasuk salah satu unsure kebudayaan yang universal )dan itu tidak lepas dari akar sejarah perkembanagan masyarakat dalam segala aspek  dan lingkungan ekologinya.implikasi dari itu adalah tidak adanya satu kesatuan adat dan tradisi yang homogen ,karena setting historis penyebaran bangsa dan etnik  dengan budaya yang dimiliki nya setra keadaan ekologi lingkungan.menurut  Schrieke (1957),kondisi yang demikian itu antara lain yang menyebabkan terbentuk nya keragaman kebudayaan dalam berbagai wujut dan bentuknya,oelh karena itu dari masa kemasa kalsel memiliki kekayaan adat dan tradisi yang sangat hiterogen yang masing masing menunjukkan spefikasi  karakteristik .heterogenetis  itu tentu dapat merupakan  asset dan dapat menjadi kekuatan potensial selama kita  sebagai bangsa tetap konsisten berpijak pada perwujudan wawasan nusantar a sebagaii satu kesatuan social dan budaya.sebagai mana di ketahui dalam kontek heterogenetis  corak ragam budaya yang di ANUT oleh masyarakat Indonesia  dari berbagai daerah (gbhn bab II sub E3)

 Mengingat adat berasal dari (bahasa melayu) dan teradisiberasal dari bahasa inggris )mengandung pengertian sebagai kebiasaan yanag bersifat magis religious dari kehidupan suatu penduduk asli,yang meliputi antara lain mengenai nilai –nilai budaya,norma –norma hokum dan aturan- aturaan yang saling berkaitan kemudian menjadi suatu system atau peraturan tradisiaonal (suyono,1985:4-7).maka keragaan adat dan tradisi yang ada antara kalsel  itu pada hakekatnya merupakan asset budaya esensial yang di miliki masing –masing  suatu daerah yang spesifik dan telah teruji dalam perjalanan sejarahnya .dengan demikian ekstensinya dapat menjadi sarana bagi upaya membangun jati diri dan pengembanagan kepribadian (character building) maupun sebagai media untuk mengembangkan  pemahaman dalam kehidupan social sehingga terbangaun solidaritas social (social solidarity)sesame warga masyarakat .bahkan ndalam konteks kebudayaan adat dan tradisi  itu pakan ada kalanya  merupakan salah satu bagian indegeneous knowledge sebagai identitas budaya esensial yang memiliki daya tarik dalam konteks interaksi dan interelasi social budaya yang bernilai tinggi

Dalam hal ini identitas budaya esensial yang oleh Geertz(1960) disebut primordial offinitiesand attachments pada umumnya dimiliki seorang sejak lahir ataub di miliki karena kelahiran nya  (ascribed),sepertikesamaan hubungan kekerabatan ,pertalian darah ,kesamaan daerah kelahiran  kesamaan bahasa dan merupakan candidate for nationhood.identitas budaya esensial cenderung terbentuk dalam  alamiah kehidupan sosialkultural komunitas pendukungnya yang kemudian menjadi banagunan struktur internal budaya mereka .oleh karena itu fleksibelitas struktur internal  sangat berperan terhadap penerimaan unsure unsure eksternal ke dalam budaya .Semakain rigit struktur  internal  semakain  sulit  unsure budaya lain diterima dan  semakain lambat pula terjadinya proses integrasi budaya .namaun demikian  disadari atau tidak sebenarnya pada komunitas juga memiliki mekanisme pemilhan /seleksi dalam penerimaan unsu-unsur budaya eksternal dan itub biasanya lebih berfungsi sebagai pemelihara harmini dalamn kehidupan dan metralisir goncangan-goncanagan yang mungkin timbul sebagai dampak dari adanya kontak dengan unsure unsure budaya eksternal tersebut (Bee,1974)

Terlebih di era globalisasi (dengan dukungan perkembanagan ilmu dan teknologi)yang semakin dahsyat melanda sendi sendi masyarakat dalam kehidupan di hampirsemua segment dan tempat dengan budaya globalnya semakain menjadui kebutuhan mutlak bagi kita untuk menemu kenali identitas budaya esensial lokal yang beragam yanga antara lain dapat di gali dari adat  dan tradisi suatu komunitas sebagai jati diri dan bagian indigeneus knowledge mereka dari masing masing komunitas setiap derah .makalah ini membahas lebih lanjut  bagaimana dan mengapa terbentuknya  keragaman adat dan tradisi banjar darib masa ke masa yang merupakan hasil proses interaksi ,interleasi ,adaptasi,dean akulturasi unsure unsure budayang hetrogen ,juga bagaimana keragaman adat dan tradisi itu di berdayakan menjadi media strategis bagi upaya membangun jatidiri dan pengembanagann keperibadian (character building ) maupun sebagai media untuk mengembangkan pemahanmana dalam kehidupan sosila sehingga terbanagun solidaritas sosilal (social solidarity)sesama warga masyarakat yang bersinergi bagi kemajuan .

Menurut E. B Tylor budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan , kepercayaan , moral, keilmuan, adat dan istiadat dan kemampuan lain beserta kebiasaan yang dapat oleh manusia sebagai

 

anggotamasyarakat.Pada kesempatan ini penulis akan menulis sebuah makalah

tentang kebudayaan suku dayak .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Kendati kebudayaan yang di  miliki oleh setiap masyarakat itu tidak sama ,seperti di Indonesia yang terdiri dari  berbagai macam suku bangsa  yang berbeda,tetapi setiap kebudayaan mempunyai ciri atau sifat yang sama .sifat tersebut tidak di artikan spesifik ,melainkan bersifat Universal  dimana budaya itu akan memiliki ciri-ciri yang sama bagi semua kebudayaan  manusia tanpa membedakan faktor ras ,lingkungan alam atau pendididkan yaitu sifat hakiki berlaku umum bagi semua budaya dimanapun misalnya kebudayaan di Kalimantan barat.

            Salah satu nya adalah suku Dayak yang dikenal sebagai sub kelompok Kanayatan. Masyarakat ini berasal dari kelompok induk Dayak Darat yang menurut Andasputra (1997: 1) berjumlah 300.000 jiwa. Ini berarti jumlah Dayak Kanayatan diperkirakan kurang lebih sepertiga dari suku Dayak di Kalimantan barat. Suku Dayak sebenarnya adalah nama kolektif puluhan suku, sub suku dan sub-sub suku. Beberapa kategorisasi digunakan pada masyarakat Dayak, tetapi pada umumnya bisa disebutkan bahwa kelompok induk Dayak terdiri dari Ngaju–Ot Danum, Iban, Punan, Kenyah Kayan, Lun Dayeh dan Land Dayak sebagai kelompok utama di Kalimantan (Avé 1996 : 4). Menurut klasifikasi Mallinckrodt, yang sedikit berbeda dari yang disebut di atas, yakni ada enam suku induk Dayak utama. Kelompok pertama, Kenya – Kayan – Bahhau, yang pada umumnya mendiami daerah Kalimantan Timur. Kedua, suku Ot Danum mendiami Kalimantan Tengah. Ketiga, suku Iban tinggal di daerah Malaysia Timur, Sabah dan Kalimantan Timur. Keempat, kelompok Murut, yang pada umumnya di Malaysia Timur, bagian Sabah dan bagian utara Kalimantan Timur. Kelima, kelompok Klemantan, juga sering diklasifikasikan sebagai Dayak Darat  yang tinggal di Kalimantan BaKita harus mengetahui bahwa dewasa ini bahasa dan latar belakang etnis

Dayak tidak selalu mengikuti wilayah yang sama. Kadang-kadang kelompok terpisah dari sub suku yang pindah ke daerah lain, karena kesempatan ekonomi atau alasan lain. Masyarakat itu membawa bahasa dan kebudayaan sendiri. Bahasa mungkin berubah sedikit, tetapi budaya dapat berubah dengan cepat sesuai dengan lingkungannya. Misalnya, ada informan yang mengatakan, bahwa ada kelompok orang Iban yang baru pindah pada waktu Perang Dunia Kedua dari Sarawak ke Kalimantan Barat (Kalbar). Alasan mereka pindah karena hidup di Sarawak terlalu berat dibandingkan dengan hidup di Kalbar khususnya pada waktu Jepang menduduki Borneo. Setelah perang selesai, kelompok Iban tidak kembali ke tempat asalnya. Kelompok rat dan keenam, kelompok Punan yang pada umumnya tinggal di pedalaman Kalimantan. utama yang bukan etnis Dayak yang tinggal di Kalbar adalah kelompok etnis Melayu, Tionghoa, Jawa, Bugis, dan Madura. 

Pada beberapa dekade terakhir sering ada masalah lingkungan dan masalah etnis di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang mendapat perhatian dari media. Banyak terjadi perubahan lingkungan alam secara fisik, tidak hanya disebabkan oleh masalah internal tetapi juga masalah yang berkaitan dengan kondisi kekurangan tanah dan permintaan bahan mentah dari luar Kalimantan. Walaupun kebijaksanaan pada waktu lalu mungkin cukup mantap, sehingga pemerintah mengeluarkan izin kepada perusahaan kayu untuk menebang pohon-pohon, tetapi kebijaksanaan pemerintah belum memperhatikan rencana perusahaan kayu untuk rehabilitasi tanah pada masa yang akan datang. Sekarang,  short term thinking pada waktu itu mengakibatkan erosi tanah, sehingga tidak subur lagi dan merugikan kesempatan pada generasi muda di Kalimantan. 

            Hal itu sangat berbeda dari kebijaksanaan petani tradisional yang membuka ladang secara berpindah-pindah. Setiap keluarga Dayak hanya membuka hutan seluas satu atau dua hektar saja, sehingga keseimbangan ekosistem hutan tidak rusak. Abu dari pembakaran hutan menjadi pupuk alami yang mengakibatkan hasil ladang cukup dan lingkungan pertanian kembali subur untuk manusia bertahan hidup di lingkungannya. Sesudah panen padi atau jagung tanahnya bisa dikembalikan menjadi hutan lagi dalam beberapa waktu. Seandainya bekas ladang sudah menjadi hutan dengan pohon yang sudah cukup tinggi, hutan itu bisa dibuka kembali untuk memenuhi kebutuhan primer masyarakat. 

            Tanaman padi menjadi salah satu faktor esensial pada suku Dayak dalam mewujudkan kebudayaan dan lingkungan hidupnya. Tanaman padi adalah inti dari budaya, pola pikiran dan kosmologi mereka karena keseluruhan hidup berkaitan dengan siklus padi. Seorang informan menyatakan bahwa kalau butiran padi tidak ditanam lagi maka tradisi Dayak bisa terancam punah. Petani ladang gunung atau petani sawah sebenarnya sangat cakap dalam menanam dan memilih bibit padi yang cocok dengan lokasinya. Semua desa memiliki puluhan jenis bibit padi, yaitu beras biasa dan beras ketan, yang ditanam di sawah atau di ladang. Tiap jenis padi mempunyai sifat yang unik, antara lain, tahan hama atau resistensi terhadap serangga, tahan kekeringan, menyesuaikan dengan kondisi kesuburan dan konsistensi tipe tanah. Sifat nasi juga berbeda, ada yang keras ada yang lembut, ada yang aroma wangi dan tidak beraroma.

               Menurut Gubernur Aspar Aswin dalam artikel harian Kompas tanggal

4 April 1997, jumlah penduduk suku Dayak sekitar 42 persen dari seluruh jumlah penduduk di Kalbar. Hal itu juga menjadi alasan untuk memutuskan fokus perhatian pada kelompok Dayak di Kalbar dan memilih Dayak Kanayatan sebagai kelompok penelitian. Sulit sekali untuk memastikan siapa orang Dayak Kanayatan yang juga dikenal oleh beberapa pihak sebagai Dayak Kendayan atau juga diklasifikasikan sebagai salah satu kelompok dari  Dayak Darat. Bahasa mereka adalah Bahasa Bakati yang juga sering 

digunakan sebagai klasifikasi kelompok. Seorang misionaris asal Eropa yang menjadi warga negara Indonesia dan lama tinggal di daerah Kanayatan menjelaskan bahwa klasifikasiDayak tidak selalu jelas

 dan membingungkan masyarakat Dayak sendiri. Dalam makalah ini kedua istilah Kanayatan dan Bakati digunakan. Pada waktu reformasi dan era otonomi daerah sekarang ini latar belakang etnis menjadi alat kuasa politik.

                Suku Dayak dikatakan sebagai salah satu kelompok etnis tertua di Kalimantan. Menurut mitos, nenek moyang orang Dayak berasal dari Kalimantan. Catatan sejarah tentang orang Dayak sebelum tahun 1850 sebenarnya sangat nihil, dan orang Dayak Kanayatan sendiri hanya mempunyai sejarah lisan. Ada beberapa hipotesis dari para ahli, seperti dari Kern dan Bellwood yang menunjukkan bahwa orang pada zaman sekarang di Nusantara mungkin berasal dari Yunan, Tiongkok yang datang ke Nusantara secara bergelombang beberapa milenium sebelumnya. Pada tahun 1938 ditemukan tengkorak  Homo Sapiens yang berumur sekitar 38.000 tahun di salah satu gua di Niah, yang terletak di pantai utara Sarawak. Tengkorak itu mirip tengkorak suku Dayak Punan pada zaman sekarang (Avé 1996 : 6).

            Kelompok Kanayatan yang berbahasa Bakati tinggal di dusun Senapit, desa Seles, Kecamatan Ledo yang terletak di kaki gunung Seles. Masyarakat  Secara tradisional suku Dayak tinggal di tengah hutan di rumah panjang yang tingginya beberapa meter dari tanah sehingga penghuni menggunakan

tangga untuk naik ke lantai rumah. Mereka tinggal di rumah panjang yang tinggi dari tanah supaya hidup lebih aman dari binatang ganas. Pada zaman dahulu hal itu juga dimaksudkan untuk menghindari musuh anggota suku Dayak yang mencari kepala manusia (ritual pengayau) sebagai bagian dari kepercayaan mereka. Menurut kosmologi mereka kegiatan mengayau dilakukan supaya mendapat kekuatan gaib yang menguntungkan bagi suku dan daerah mereka. Selain itu juga untuk mengusir roh jahat dan sesuatu yang tidak baik atau menyakitkan bagi kehidupan manusia.

            Kelompok bahasa suku Dayak Kanayatan diklasifikasikan sebagai

bagian keluarga dari bahasa induk Austronesia. Lebih persis sub keluarga bahasa Malayu-Polinesia Barat menurut sebuah organisasi ahli linguistik bernama Ethnologue. Suku Dayak Kanayatan berlokasi di utara dari Pontianak dan selatan dari perbatasan Malaysia-Indonesia. Kota yang penting di daerah suku Kanayatan adalah kota Bengkayang, Lumar, Sangga-Ledo, Salamantan, Menjalin, Darit, Ngabang dan Serimbu. 

 Faktor penting yang mewujudkan bahasa di Kalbar adalah keadaan geografis dan pemerintah adat lokal. Faktor geografis atau batas alam mempersulit interaksi dengan masyarakat dari jauh. Sama dengan sistem adat pemerintah yang dikenal sebelum merdeka dengan nama pemerintahan Benua. Daerah Benua, besarnya sampai sekitar 10 kampung. Urusan yang tidak dikelola oleh kampung seperti tindakan-tindakan kriminal atau masalah keamanan dari luar dikelola oleh kepala Benua. Hubungan politik dalam Benua dapat mewujudkan kesamaan bahasa atau dialek. Sebenarnya sampai

sekarang bahasa Bakati Rara atau Bakati Sebiha dipakai di daerah Benua. mereka sendiri. Pada umumnya klasifikasi bahasa mengikuti daerah Benua walaupun pemerintah Benua tidak ada lagi dalam pemerintahan dewasa ini. Bang Albertus dari Institut Dayakologi mengklasifikasikan setidaknya sembilan logat Bakati di suku Kanayatan. Dia membedakan logat Bakati dari beberapa Benua yaitu; Rara, Palayo,Sebiha, Lumar, Kanayatan Satango, Subah, Kuma-Sengayan, Sara dan Riok.   

 

Mata pencaharian dan seni suku dayak kayatan

Pada dasarnya kebutuhan pokok dipenuhi oleh lingkungannya. Sudah dikatakan sebelumnya bahwa Orang Dayak berburu dan berladang. Padi (Oriza Sativa) dari keluarga Poacerea adalah suatu yang paling penting dalam kehidupan Dayak. Keaneka-ragaman jenis bibit padi sangat tinggi. Masyarakat Dayak terdiri dari petani ladang berpindah-pindah. Ladang gunung baru dipilih dengan izin kepala desa. Pada umumnya hanya ladang yang ditanam setidaknya tujuh atau sepuluh tahun sebelumnya digunakan

lagi. Tanah hutan yang semakin lama tidak digunakan untuk ladang semakin subur. Keuntungan lain dari ladang berpindah-pindah adalah karena setelah  tanah cukup lama tidak digunakan menjadi hutan lagi sehingga tidak banyak rumput yang tetap hidup. Itu berarti ladang tidak perlu digarap secara intensif setelah padi muncul dan tumbuh. 

            Biasanya padi ladang di tanam pada bulan Agustus dan September, setelah ladang di bakar dan dibersihkan. Masyarakat tidak menggunakan alat-alat canggih dan juga tidak menggunakan tenaga hewan seperti kerbau atau sapi. Mereka hanya menggunakan parang, kapak, cangkul dan tenaga manusia untuk mempersiapkan ladang. Petani-petani menggunakan abu dari kayu yang dibakar sebagai pupuk yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan padi di ladang. Seandainya ladang sudah siap untuk disebarkan bibit padi, petani membuat lubang dengan tongkat, setelah itu langsung beberapa bibit padi dimasukkan dan lubang ditutupi.  Ada upacara pada saat bibit padi ditanam dengan gaya melingkar dan memberi korban ayam sebagai sesajen. Selama masa tumbuh padi ada ritual dan memberi korban sesajen, supaya roh jahat dan baik merasa puas dan panen tidak gagal tetapi berlimpah. Pada waktu ritual sesajen ada pantangan makanan pada keluarga sesuai dengan yang disuruh oleh  balian, misalnya tidak bisa makan rusa atau rebung selama beberapa minggu. Pesta besar bernama Gawai ada pada waktu panen. 

            Seni adalah konsep yang terkait dengan segala aspek hidup sehari-hari

orang Dayak. Mulai dari alat cangkul yang digunakan di ladang sampai patung kepercayaan yang dipahat memiliki nilai religi yang tinggi.   Salah contoh karya seni lain adalah sejenis alat dari bambu dan rotan yang bernama  bubu untuk menangkap ikan, keong dan kepiting. Sebenarnya bubu adalah suatu kerajinan-tangan yang dibentuk dengan sangat indah. Dulu memang ada banyak peralatan sehari-hari seperti, pakaian, senjata, topeng, tikar, patung, keranjang, dan tempat untuk menyimpan beras yang diciptakan dan dibuat oleh masyarakatnya sendiri.

              Pakaian khas Dayak dari kulit kayu masih dipakai pada waktu Perang Dunia Kedua. Waktu itu memang sulit sekali untuk mendapatkan kain untuk menjahit celana dan baju, itu alasannya masyarakat kembali menggunakan pakaian tradisional. Warna juga menjadi hal yang penting bagi orang Dayak. Dulu orang Melayu yang menjual kain kepada orang Dayak hulu sungai menyatakan bahwa hanya warna hitam dan merah yang diminati oleh orang Dayak. Sekarangpun warna hitam dan merah masih menjadi warna tradisional Dayak Kanayatan.  Di Senapit ada pondok adat warisan dari nenek moyang, yang tidak jauh dari gereja Katolik. Jarang orang  yang masuk daerah itu lagi, terutama pemuda dan pemudi. Di sana ada beberapa patung yang bernama Raja Gandi, Niagun Nimpa, Gandi Amas dan Bereniyo yang mengandung nilai spiritualyang menjaga manusia dari kesialan dan membantu masyarakat mengatasi masalah. 

Balian di Senapit yang sudah cukup tua telah banyak lupa tentang hal yang diceritakan oleh orang tua mereka, seperti mengenai roh-roh dan tempat spiritual tersebut. Dulu memang masyarakat berkumpul di tempat suci itu pada waktu panen, menanam padi atau kalau ingin mengadakan perayaan yang besar. Tidak jauh dari patung ada tempayan kuno yang digunakan dalam upacara tradisional. Di atas tempat patung tradisional itu ada beberapa tengkorak yang bagian tulang atasnya diberi motif tradisional. Tengkorak di pondok suci  adalah tengkorak hasil pengayauan oleh panglima pada zaman dulu.

Dalam adat pernikahan  suku dayak .  Upacara pernikahan dalam bahasa Bakati disebut  berkinja.  Proses sebelum pernikahan sangat menarik dan akan dideskripsikan di bawah ini. Pada waktu laki-laki dan perempuan merasa cocok untuk menjadi pasangan hidup laki-laki dari pasangan tersebut menghubungi perantara menemui orang-tua perempuan meminta izin untuk laki-laki tersebut menikahi anaknya. Seandainya orang tua perempuan setuju mereka akan menghubungi orang-tua laki-laki. Kalau orang-tua kedua belah pihak setuju dengan pernikahan tersebut, izin resmi diberikan untuk pernikahan. Pada umumnya pernikahan akan dilaksanakan dalam waktu tiga bulan setelah ada persetujuan kedua belah pihak dan pada waktu itu ada upacara kecil, laki-laki berjalan secara resmi dari rumah orang tua perempuan atau sebaliknya. Di pesta pernikahan semua orang desa dipanggil, dan dalam upacara tersebutbabi dan ayam dikorbankan sebagai sajen dan kemudian daging itu menjadi hidangan pesta.

             Pada umumnya upacara pernikahan dan sunatan dilakukan pada waktu mereka tidak sibuk di ladang.  Kepercayaan tradisional Dayak sangat terkait dengan aktivitas pertanian danbagi mereka kepercayaan juga sangat berkaitan dengan persoalan mendapatkan nasib baik untuk diri sendiri, keluarga, dusun dan daerahnya. Dalam kepercayaan mereka berbagai upacara dilaksanakan supaya roh-roh jahat kalah dari roh-roh baik sehingga kehidupan mereka di pemukiman lebih aman dan mereka memperoleh rejeki. Sering mereka mengatakan bahwa ada keinginan punya keturunan, panen yang cukup dengan kebutuhan mereka, dan hubungan baik dengan manusia lain. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

Orang Banjar memang komunitas minoritas di tanah Dayak Kalimantan Tengah.Namun kekuatan roh bahasanya tak lekang bisa digeser oleh bahasa etnis mana pun diprovinsi itu, sekali pun ia bahasa mayoritas (Dayak Ngaju, misalnya). Orang Ngaju atau orangMaanyan ketemu orang Banjar sudah jelas pilihan bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar (bukan bahasa Indonesia). Yang lebih memprihatinkan lagi bila orang Ngaju ketemu

orang Maanyan pilihan bahasa yang digunakan bukan Ngaju atau Maanyan, atau bahasa

Indonesia sekali pun melainkan bahasa Banjar. Dari fenomena tersebut, bahasa daerah dari

Kalimantan ini sudah menembus batas-batas linguistik bahasa Ngaju maupun bahasa

Maanyan. Ia sudah tidak sekadar bertahan untuk komunitasnya sendiri namun sudah

menggeser (shifting) bahasa-bahasa orang Dayak di Kalimantan Tengah.

  Terjadi nya perubahan adat istiadat yang terjadi pada suku daya di karenakan beberapa penyebab di antara nya adanya perselisihan antara suku Madura dengan suku dayak,merupakan sebuah sejarah yang sangat tragis dimana pada peristiwa itu terjadi pertumpuahan darah antar suku.dan pada peristiwa tersebut harusnya menjadi sebuah pengalaman yang tidak perlu untuk di lanjutkan cukup dan diharapkan adanya usaha penjalinan kerjasama dalam membangun persaudaraan yang sudah retak demi menciptakan kebinikaan antar sesame manusia antar sesame masyarakat se Indonesia.

            Budaya merupakan sebuah anugarah yang perlu untuk di kembangkan dan di jaga kelestarian nya berdasarkan norma dan adat yang berlaku pada suatu wilayah tersebut demi menjaga dan melestariakan sebuah warisan dari nenek moyang maka perlu ada nya kesadaran dari generasi muda yang aada untuk mempertahan kan nya dan tidak merubah kebudayaan dan adat istiadat yang sudah di buat oleh nenek moyang sebelumnya.

           

 

           

   

About lukmanunlam

Lahir di semarang 2 Mei 1991,dan sedang menempuk pendidikan di perguruan tinggi negri di kalimantan selatan bernama UNLAM
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s